Mesjid Buton

Wisata Sejarah - Mesjid Kraton Sultan Buton – Bau Bau – Sulawesi Tenggara

 

ph2736264560101364845

Masjid Buton pertama kali didirikan pada tahun 1538 M. Tidak lama berselang, masjid ini terbakar akibat perang saudara yang terjadi di Kesultanan Buton dalam perebutan kekuasaan. Pembangunan masjid tersebut baru dimulai lagi pada tahun 1712 M dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat semula.
Sejarah pembangunan kembali Masjid Buton menjadi tonggak perdamaian dalam perang saudara di Kesultanan Buton. Kisahnya berawal dari pengalaman gaib salah seorang ulama yang tinggal di dalam Benteng Keraton Wolio yang bernama Syarif Muhammad. Ia mendengar suara azan dari sebuah tempat yang ada di sekitar keraton, maka kemudian ia mencari suara gaib tersebut. Setelah menelusuri sekian lama, ia menemukan suara azan itu berasal dari sebuah lubang yang terdapat di bukit di samping keraton. Berhubung hari itu adalah hari Jum‘at, Syarif Muhammad mengajak masyarakat untuk melaksanakan shalat berjamaah di tempat tersebut. Ia memanfaatkan momen tersebut dengan mengajak semua pihak yang sedang bertikai untuk berdamai. Kemudian Sultan Sakiudin Darul Alam, sebagai Sultan Buton, berinisiatif untuk membangun kembali masjid yang sudah terbakar di lokasi sumber suara azan ditemukan.
Pada tahun 1930, di masa Sultan Hamidi (sultan ke-37), masjid ini untuk kali pertama direnovasi. Struktur asli bangunan tetap dipertahankan dan hanya mengganti sebagian rangka kayu, karena sudah lapuk dimakan usia. Sedangkan atap yang semula menggunakan atap rumbia diganti dengan seng.
Keistimewaan Masjid Buton terletak pada arsitektur bangunannya. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Sementara itu, bangunan masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara.
Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang salah satu di antaranya berfungsi sebagai pintu utama. Pada bagian depan masjid, atau tepatnya sebelah timur dari sisi masjid, terdapat serambi terbuka. Sementara itu, di dalam masjid terdapat sebuah mihrab dan mimbar yang terletak secara berdampingan. Keduanya terbuat dari batu bata yang di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan ukiran Arab.
Sebuah lampu antik yang terbuat dari perunggu bercabang tiga yang digantung tepat di tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tersebut, tersedia tiga tempat untuk bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan model itu hanya terdapat di tiga tempat di Indonesia, dua lagi terdapat di dalam Istana Negara Jakarta dan Keraton Yogyakarta.
Masjid Buton terletak di dalam Benteng Keraton Buton, Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Indonesia.
Perjalanan dimulai dari Kota Kendari ke Bau-Bau dengan menggunakan pesawat perintis atau kapal laut. Jika menggunakan pesawat membutuhkan waktu sekitar 1 jam, dan jika menggunakan kapal laut membutuhkan waktu sekitar 4 jam.
Bagi para wisatawan yang datang dari luar kota dan ingin menginap tidak perlu khawatir karena di Kota Bau-Bau banyak tersedia hotel yang nyaman untuk menginap. Begitu juga dengan masalah makanan dan minuman. Di sepanjang jalan di kota ini banyak berjejeran rumah makan dan restoran yang menyajikan berbagai menu, sehingga para wisatawan bisa memilih tempat yang sesuai dengan selera guna bersantap ria.

Kembali ke Wisata Sulawesi Tenggara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s