Batubulan Bali

Batubulan Bali

Batubulan Bali , adalah sebuah desa Kecamatan Sukawati – Gianyar –  Bali. Desa Batubulan terkenal sebagai Penghasil kerajinan patung  yang khas terbuat dari Batu, dan sangat lekat dengan kesenian tari Rakyat Bali.  

Pada awalnya terkenal sebagai suatu desa agraris yang kaya akan kesenian termasuk seni tari dan seni ukir. Struktur masyarakat dan kebudayaan agraris yang dijiwai oleh agama Hindu menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Desa Batubulan.
Kalau dari Kuta maupun Nusa Dua kurang lebih memerlukan waktu 45 menit.
Menelusuri sepanjang jalan desa tersebut sebelah kanan-kiri terdapat art shop yang memajang patung batu seperti patung Budha, Ganesa, Dewa, Dewi dan karya seni yang bermotif modern. Kebanyakan patung di sini dibuat dari batu yang berasal dari Bali namun ada beberapa yang didatangkan dari luar pulau Bali seperti batu Palimanan.
Desa wisata ini juga dikenal sebagai tempat penyelenggaraan berbagai seni pertunjukan khas Bali, seperti Tari Kecak, Tari Barong, serta Tari Legong.

Legenda Desa Batu Bulan
Tersebutlah pemberontakan I Gusti Agung Maruti sekitar abad 17 di Kerajaan Gelgel Klungkung. Di tengah-tengah pemberontakan itu seorang pengendara kuda dapat memungut seorang anak yang kemudian dibesarkan di bawahasuhan I Gusti Ngurah Bija dari Penatih dan I Gusti Ngurah Jambe Pule dari Kerajaan Badung. Raja Badung pada waktu itu menginginkan bahwa anak pungut itu yang dimasukkan dalam Kalesan (keranjang), yang kemudian diberi nama Dewa Agung Kalesan. Pada hakekatnya anak tersebut adalah anak dari Keluarga Keturunan Dalem Sagening. Kemudian disebutkan bahwa setelah Dewa Agung Kalesan dewasa atas kebaikan hati Raja Badung, beliau disuruh membangun istana di hutan yang terletak di sebelah Timur Kerajaan Badung dengan sejumlah pengikut. Pada saat perabasan hutan Dewa Agung Kalesan melihat sebuah batu bercahaya seperti bulan dan oleh beliau tempat ini diberi nama Batubulan. Di tempat inilah Dewa AGung Kalesan dengan para pengikutnya menetap untuk memegang pemerintahan serta memperluas kekuasaannya, sampai ke Batuyang dan Batu Aji yang berlokasi di sebelah timur Batubulan. “Batubulan tersebut kini disimpan di Merajan Agung Puri Batubulan.
Sebagian besar penduduknya memiliki keahlian membuat patung dan ukiran. Kemampuan tersebut diwariskan secara turun temurun dan tetap berkembang hingga sekarang.
Desa Batubulan terbagi ke dalam tiga desa adat, antara lain Desa Adat Tegaltamu, Desa Adat Jero Kuta, dan Desa Adat Dlod Tukat. Tiap desa adat tersebut masih terbagi lagi ke dalam beberapa banjar (satuan adat yang berfungsi untuk mengelola pertanian). Beberapa banjar, di samping mengelola pertanian, juga memiliki kelebihan karena mampu menyajikan seni pertunjukan yang diminati oleh wisatawan, misalnya Banjar Denjalan (di Desa Adat Jero Kuta) dan Banjar Tegehe (di Desa Adat Dlod Tukat) yang mempertunjukkan Tari Kecak, Barong, dan Legong.
Serta untuk mendukung berbagai keunggulan di bidang kesenian dan memantapkan citra Batubulan sebagai desa seni dan wisata, di desa ini telah dibangun berbagai sekolah kejuruan di bidang kesenian, misalnya Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMIK), serta Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI).

 

DAYA TARIK WISATA
Selain Desa Batubulan sebagai penghasil benda-benda seni patung dengan bahan dasar batu yang khas juga desa ini juga memiliki lokasi tetap pertunjukan kesenian yang khusus disajikan untuk wisatawan, antara lain di Banjar Dejalan, Pura Puseh, serta di Banjar Tagehe. Pertunjukan seni meliputi Tari Barong, Tari Kecak, dan Tari Legong.
Tari Barong, pertunjukan diadakan setiap hari, yaitu dimulai pada jam 9.30 WITA, sementara untuk Tari Kecak dipentaskan pada jam 18.30 WITA. “Denjalan Barong”, tarian asli desa ini  untuk mengiringi drama tari Barong.
Para wisatawan dapat melihat empat tarian sekaligus setiap hari dan duduk di kursi bambu sambil menikmati indahnya pemandangan sawah yang membentang luas. Setiap malam minggu, wisatawan juga akan dihibur dengan pertunjukan tari Kecak dan tari Sanghyang pada panggung yang terpisah. Tarian ini terkenal dan disertai dengan tari Kuda Kepang yang berjalan di atas bara, serta ditemani oleh dua orang penari Sanghyang Dedari yang cantik-cantik.

Desa Batubulan merupakan jalur perlintasan strategis antara Denpasar—Kota Gianyar. Batubulan boleh dibilang merupakan pintu gerbang paling barat dari Kabupaten Gianyar (berjarak sekitar 25 km arah barat Kota Kabupaten Gianyar) dan sekaligus pintu masuk menuju kawasan Bali bagian timur dari arah Kota Denpasar. Jalur yang melintasi Desa Batubulan terbilang cukup ramai karena merupakan jalur menuju Kintamani maupun Ubud, sehingga wisatawan yang ingin menuju Kintamani atau Ubud dapat mampir di desa ini untuk menyaksikan pertunjukan kesenian maupun kreasi seni ukir dan patung karya seniman lokal. Dari Kota Denpasar, Batubulan berjarak sekitar 10 km atau membutuhkan waktu sekitar 15 menit menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum (taksi/mobil carteran)
Sementara, jika wisatawan memulai perjalanan dari Pantai Kuta maupun kawasan Nusa Dua, dibutuhkan waktu + 45 menit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s