Legenda Sangkuriang

Kisah Cinta Ibu dan Anak

Dayang Sumbi

Sungging Perbangkara Seorang , Raja kecil yang gemar berburu, suatu hari bersama beberapa orang sahabat dan hambanya pergi menyelusuri hutan didekat istana peritirahatan pribadinya.  Saat berburu itulah Sungging bertemu seorang gadis dusun cantik nan elok bernama Nyai Sariti, Kedua insan berlainan jenis ini saling tertarik pada pandangan pertama yang selanjutnya melakukan hubungan diluar nikah.

Nyai Sariti seorang gadis elok dusun yang miskin, hidup bahagia beberapa hari di istana tetapi kemudian ia diusir dan lupakan begitu saja. Karena Nyai Sariti punya dua kebiasaan yang sangat tidak disukai oleh Sungging. Yakni, cara makannya yang ribut dan rakus, juga dikala tidur Nyai Sariti selalu mendengkur keras dan ribut. Mirip cara makan dan mendengkurnya babi (pengertian filosofis untuk sosok babi dalam versi umum).

Nyai Sariti dicerca, dimaki lalu kemudian diusir , hidupnya terlunta-lunta , belakangan nekad meninggalkan bayi perempuan mungil yang ia lahirkan ditengah hutan akibat Hugel (hubungan gelap) dengan Sungging kemudian ia bunuh diri. Bayi mana kemudian ditemukan kembali oleh Sungging ketika berburu. Membawa pulang bayi yang tak jelas siapa orangtuanya untuk diadopsi sebagai anak dan kemudian ia berinama Dayang Sumbi. Tanpa menyadari bahwa Dayang Sumbi adalah darah dagingnya sendiri, hasil hubungan diluar nikah dengan Nyai Sariti.

Lalu musibah demi musibah pun datang beruntun. Awalnya, pada saat Dayang Sumbi memasuki usia dewasa , bak bunga mawar yang sedang mekar, berkulit kuning langsat menutupi seluruh permukaan tubuh yang padat , berlekuk lembut elok mengeluarkan wewangian alami seorang perawan , wajah bulat telur yang dihiasi mata , hidung dan mulut sangat sempurna , lentik buluh mata, hidung mancung ,bibir tipis memerah merekah , bak bidadari turun dari kahyangan, pada suatu waktu  ia mendengar ayah dan ibunya bertengkar hebat. Dalam pertengkaran mana disebut – sebut tentang Dayang Sumbi yang ditemukan oleh Sungging ditengah hutan. Tanpa jelas asal usulnya. Mendengar itu, Dayang Sumbi yang cantik jelita ,bathinnya langsung terpukul, memutuskan minggat dari rumah orangtuanya, seraya meninggalkan supucuk surat pada sang ayah. Bahwa Dayang Sumbi akan hidup menyepi di istana peristirahatan  pribadi keluarga mereka ditengah hutan.

Tanpa boleh didatangi atau diganggu oleh sang ayah, sampai Dayang Sumbi menemukan jati diri dan juga keberadaan ayah dan ibu yang melahirkannya. Sungging yang sangat menyayangi dan menguatirkan keselamatan Dayang Sumbi, menyetujui permintaan sang puteri tercinta. Tetapi sambil mengutuskan 2 orang penjaga, seorang pelayan dan Tumang anjing setia keluarga untuk menemani dan melindungi keselamatan Dayang Sumbi, yang dengan berat hati terpaksa diterima juga oleh Dayang Sumbi.

Musibah berikutnya datang menyusul dalam tempo singkat. Dayang Sumbi yang mengisi waktu luang diluar kesibukan mencari keberadaan orangtua kandungnya dengan membuat hiasan strimin sebagai hobbi utamanya, suatu hari tanpa sengaja menjatuhkan gulungan benang yang sangat menentukan keindahan strimin yang tengah di kerjakan. Setelah dicari kesana sini dibantu oleh pelayan dan para pengawalnya masih juga tak ditemukan, dalam ketidak sabarannya Dayang Sumbi kemudian mengucapkan janji yang bersifat sumpah.

Bahwa siapa pun yang menemukan gulungan benang dimaksud jika perempuan akan dijadikan saudara yang akan ia limpahi kekayaan. Dan jika laki-laki, akan ia jadikan suami. Maka, semakin sibuk dan bersemangatlah mereka yang mendengar untuk mencari gulungan benang yang hilang. Uniknya, yang paling sibuk dan paling bersemangat mencari adalah Tumang, si anjing setia.
Beberapa hari kemudian datanglah seorang pemuda gagah, tanpan , tegap dan kuat yang justru menemukan dan mengantar langsung benang dimaksud pada Dayang Sumbi. Dalam laporan sang perjaka bahwa barang yang ditemukan itu sebenarnya ditemukan oleh seokor anjing dan setelah itu menyerahkan kepadanya lalu anjing tersebut menghilang entah kemana, Sumpah telah terucap dan Dayang Sumbi terpantang mengingkarinya. Maka Sang Perjaka  pun ia terima keberadaannya sebagai suami, sekalipun anjing peliharaan telah hilang.
Selama beberapa bulan , kedua muda mudi tak pernah berpisah , bahkan lebih banyak berada didalam kamar ketimbang berjalan jalan ditaman, memadu cinta yang membara ,Dayang Sumbi mulai merasakan perubahan fisik tubuhnya , perut makin membesar dan menambah kasih sayang sang suami, dan kemudian akhirnya memperoleh keturunan seorang bayi sehat dan tampak yang ia berinama Sangkuriang.
Sesaat sebelum kelahiran Sangkuriang , sang suami berniat mencarikan mustika yang akan dipersiapkan pemberian calon putra yang akan lahir, konon khabarnya mustika tersebut berada di gunung tak jauh dipinggiran hutan tempat istana bereka berdua, maka berangkatlah sang suami.

Bertepatan kelahiran sangkuriang , sang ayahpun tak kunjung kembali , lima tahun kemudian Dayang Sumbi bermimpi bahwa sang suami kembali tepat matahari terbit keesokan harinya. Tak disangka sewaktu membuka pintu istana yang tampak bukanlah sang suami tercinta tetapi anjing kesayangan yang hilang 5 tahun yang lalu dan dilehernya tergantung mustika batu giok seperti yang dijanjikan suaminya 5 tahun yang lalu, karena itulah dayang sumbi menganggap Tumang adalah jelmaan suami tercinta 

Alkisah, Sangkuriang kemudian tumbuh menjadi seorang anak tampan, pemberani serta gemar berburu seperti halnya Sungging sang kakek. Demikian pula Dayang Sumbi , kecantikan dan keelokannya makin merekah , malah tak ada yang menyangka bahwa Dayang Sumbi telah mempunyai anak berumur 10 tahun, kecantikannya sekarang mengalahkan kecantikan 10 tahun yang lalu, kemudian pada suatu hari ketika Sangkuriang pergi berburu ditemani Tumang , anjing kesayangan , sang ibu berpesan minta dibawakan hati menjangan kesukaannya. Sangkuriang menyanggupi.

Tetapi ketika dengan susah payah dan akhirnya melihat seekor menjangan, mendadak Tumang si anjing setia membuat ribut bahkan menghalangi niat Sangkuriang yang sudah siap menembak menjangan tersebut.

Karena dimata Tumang, sosok menjangan itu terlihat sosok pria berpakaian putih-putih gemerlapan, mirip seorang Dewa . Keributan Tumang tentu saja membuat sang menjangan minggat dan tak bisa ditemukan lagi. Yang seketika membangkitkan kemarahan Sangkuriang yang dengan kalap kemudian menembak Tumang lalu hati si Tumang ia bawa pulang dan dipersembahkan pada sang ibu sambil berbohong mengatakan yang ia bawa adalah hati menjangan.

Yang setelah dimasak lalu disantap Dayang Sumbi, lalu ditanya mengapa hati yang ia santap jauh lebih gurih dan lebih nikmat ketimbang hati menjangan sebelumnya yang biasa disantap Dayang Sumbi. Acuh tak acuh Sangkuriang lantas berterus terang hati apa sesungguhnya yang sudah dimakan oleh sang ibu.

Tak pelak lagi dalam keterkejutannya, Dayang Sumbi langsung memukul kepala puteranya dengan sebuah alat dapur yang membuat kepala Sangkuriang terluka parah. Tak cukup sampai disitu, Sangkuriang kemudian diusir sambil diberitahu bahwa si anjing setia Tumang adalah jelmaan ayah kandung Sangkuriang sendiri.

Sangkuriang

Pertemuan Dayang Sumbi dengan Sangkuriang 
10 tahun kemudian , alun alun kerajaan dipenuhi masyarakat yang sementara menonton pertandingan adu kekuatan dan ketangkasan para pemuda yang datang seantero negeri , kali ini   selain mendapatkan hadiah dari raja juga pemenangnya diperkenangkan bertemu Putri kesayangan Raja yang sangat cantik dan menawan , siapa tau sang putri berkenang dan menjadi mantu raja.

Seorang pemuda , tampan kurang lebih berumur 20 tahun dan gagah, duduk beristirahat setelah memenangkan 10 kali pertandingan berturut-turut, menantikan pertandinngan selanjutnya. Dia adalah Sangkuriang , pemuda sakti, setelah merantau dan berguru , terbentuklah dalam dirinya , jiwa kesatria mandra guna, jujur dan selalu menolong orang yang membutuhkannya, karena selama perantauannya tak pernah menemukan lawan tanding, maka segala kemauannya dan keinginannya selalu terpenuhi. Dan kali ini Sangkuriang ikut seyembara adu ketangkasan dan sekaligus berniat mempersunting sang putri yang konon mempunyai kecantingan dan keelokan yang tiada taranya dan terkenal sampai negeri seberang.

Sang Putri, tidak lain adalah Dayang Sumbi, yang telah menjanda 20 tahun , namun makin bertambah umur seiring bertambah pesona keindahan dan kecantikannya yang membuat setiap pemuda di negri itu mengidam-idamkan untuk mempersuntingnya dengan cara apapun. Dayang Sumbi, setelah menjanda sekian tahun namun hasrat gelora kewanitaannya sangat mendambakan  dekapan dan kehangatan sang suami , karena hasrat yang membara inilah menyebabkan Dayang Sumbi merawat kecantikan dan keelokan wajah dan tubuhnya. Menggunakan kesempatan ini Dayang Sumbi nantinya menetapkan calon pendampingnya dari pemenang sayembara.

Wal hasil , pemuda perkasa, satria mandra guna “Sangkuriang” berhasil memenangkan semua pertandingan, menyisihkan lawan-lawannya satu persatu. kemenangan mutlak, dan mendapatkan hadiah yang telah dijanjikan selanjutnya dipersilahkan memasuki istana untuk menjumpai sang putri.

Pertemuan kedua insan ini (Dayang Sumbi dan Sangkuriang) membuat suasana saat itu tidak menentu, membisu seribu bahasa, masing masing hasrat untuk saling memiliki, untuk bersatu yang tidak akan dipisahkan lagi oleh apapun, hasrat yang membara selama ini yang dirasakan Dayang Sumbi, menantikan sang kekasih selama 20 tahun , berlindung dalam dekapan dada lapang yang telah hilang  dan pernah dimilikinya dan dalam hatinya diputuskan apapun yang diminta oleh perjaka akan diserahkan dengan sepenuh hatinya, demikian pula Sangkurang, yang telah berkelana selama 10 tahun , menemukan sang gadis mirip sekali dengan ibundanya, yang berbeda sebelum Sangkuriang tinggal pergi karena diusir ibunda, raut wajah sang bunda tergores rana penderitaan yang sangat mendalam, tetapi putri yang ada didepannya ini, selaian kecantikan dan kemolekannya melebihi berita yang tersebar keseluruh negeri, juga sangat ceriah dan tubuhnya mengeluarkan wewangian alami seorang perawan.

Keheningan dipecahkan oleh suara raja yang bertanya kepada Sangkuriang , ” Katakanlah wahai pemuda perkasa, apa keinginan kamu setelah memenangkan semua sayembara??’ , kata Sangkuriang dengan jantung berdebar-debar ” Hamba  hanya ingin mempersunting sang Putri”, mendengar permintaan Sangkuriang tersebut , wajah Dayang Sumbi merona kemerahan dengan perasaan bahagia dan langsung berlari kecil menuju kamarnya. Raja tertawa senang dan mengucapkan selamat kepada Sangkuriang karena permintaannya telah dikabulkan oleh Dayang Sumbi.

Beberapa saat kemudian, setelah ditetapkan hari pernikahan besok siang yang akan dirayakan selama 7 hari-7 malam, maka Sangkuriang diizinkan menemui Dayang Sumbi langsung dikamarnya untuk saling mengenal satu sama lain

Tangkuban Perahu

Tanpa pikir panjang, Sangkuriang  bergegas ke kamar Dayang Sumbi. Sambil mendekat dan menemukan Dayang Sumbi duduk ditepian pembaringan sambil tersenyum manis namun dipelupuk matanya tampak butir air mata bak mutiara yang memancarkan kebahagian yang tak terhingga. serta merta tangan Sangkuriang  memeluk sang kekasih calon isteri yang tercantik seantero negeri, mendekap bibir yang mungil merekah, dan sambutan hangat dari Dayang Sumbi yang tidak kalah aktifnya seakan akan pelampiasan perasaan rindu yang tertahan selama bertahun-tahun…, tak satupun kata kata yang terucap dari kedua insan yang lagi dimabuk kesmaran..lupa segala-galanya, rasanya berada dilangit yang ketujuh , jauh dari kesibukan dunia, kesenangan dan kenikmatan yang meliputi seluruh tubuh yang menegang dan pori-pori yang mulai mengeluarkan wewangian keringat, tak disadari kedua-duanya saling membantu melepaskan semua ornamen-ornamen yang menutupi tubuh mereka, seakan akan memberikan peluang semua bentukan merapat tanpa pembatas..

Dalam dekapan sang kekasih , Dayang Sumbi juga mulai bembelai rambut Sangkuriang, Asmara yang membara dan menggelora tiba-tiba disirnakan oleh tanda bekas luka di kepala, persis tempat bekas luka anaknya 10 tahun yang lalu, kemudian perlahan lahan naluri keibuan Dayang Sumbi mendominasi dan merubah suasana mencadi cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, namun emosi dayang sumbi yang dibayang-bayangi dosa besar ,tetap ditahannya sambil bangun untuk duduk dan merapikan pakaiannya seadanya , ia mendorong tubuh sangkuriang perlahan-lahan dan dibaringkannya diatas pangkuannya kemudian ia bertanya ” Wahai Calon Suamiku, dapatkah engkau menceritrakan kepada Adinda , kejadian bekas luka dikepala kakanda ??”, tanpa ragu-ragu Sangkuriang menceritrakan secara detail  kronologis kejadiannya 10 tahun yang lalu sampai ia di usir oleh ibunda tercinta. Tak terasa butir air mata kasih sayang seorang ibu , dayang sumbi menetes di wajah sangkuriang , rasa syukur terimah kasih kepada yang kuasa , anak yang tercinta yang diusirnya 10 tahun lalu kini telah kembali dan berbaring diatas pangkuan dengan penuh rasa manja. dipandangnya wajah anaknya, fikirannya sangat kalut , bahagia bercampur perasaan berdosa , dalam hatinya ia berdoa dan memohon petunjuk kepada Yang kuasa “Ampunilah hambamu yang berdosa ini , dalam ketidak tahuan kami Ibu-Anak telah melakukan perbuatan suami -isteri yang sepatuhnya tidak boleh dilakukan” desah nafas dayang sumbi yang hangat dan harum menerpa wajah sangkuriang yang berbaring dipangkuannya, dengan perasaan bahagia karena akan mempersunting seorang Putri yang kecantikannnya melebihi berita yang tersebar diseluruh pelosok negeri ini membuat sangkuriang berkata ” Wahai Calon Isteriku yang cantik jelita , adakah satu permintaanmu yang pasti Kakanda penuhi”  hening sejenak , namun perasaan emosi dayang sumbi hampir hampir tak bisa terbendungi lagi, tetapi dengan tenangnya sambil membelai rambut anaknya , ia berkata ” Wahai Calon Suamiku, besok siang kan hari pernikahan kita, berarti masih ada waktu satu malam kesempatan kakanda membuatkan Adinda sebuah perahu yang besar , sebesar gunung nun jauh disana, dan selesai sebelum terbit fajar di ufuk timur, berarti jiwa dan tubuh Adinda ini adalah milik Kakanda sepenuhnya” , arti permintaan dayang sumbi ini ialah untuk mempersuntingnya , sangkuriang harus membuatkan sebuah perahu dan selesai sebelum pagi. Permintaan Dayang Sumbi kedengarannya tidak wajar bagi orang biasa, tetapi bagi Sangkuriang , permintaan itu hal yang sangat sepele , lalu dengan bangganya ia pun berkata dan bersumpah ” Kakanda penuhi permintaan Adinda , akan kakanda persembahkan sebuah perahu besar diselesaikan sebelum fajar menyonsong di ufuk timur”, lalu ia pun pamit keluar kamar dayang sumbi , dengan hati yang berbunga-bunga melangkah menuju kamarnya untuk mempersiapkan pembuatan perahu yang diminta oleh calon isteri yang tercinta.

Sesampai dikamarnya, sangkuriang mulai bersemedi memanggil semua jin-jin pembantunya, setelah semua pembantunya terkumpul kurang lebih seribu jin, lalu berkatalah sangkuriang ” Wahai pembantuku yang setia, dapatkah kamu membuatkan sebuah perahu yang besar ?” yang ia jelaskan spesifikasinya sesuai permintaan dayang sumbi, dijawab oleh para pembantunya ” Pasti selesai tuanku satu kentongan sebelum mata hari terbit”. Sangkuriang mulai tenang, dan sangat berbahagia, betapa tidak bahwa mulai besok secara resmi ia mempersunting seorang dewi yang sangat cantik dan bersahaja seperti ibundanya yang ia sangat rindukan, rencananya setelah mempersunting dayang sumbi , ia akan mengajak isterinya untuk mencari ibundanya , sekalipun ibundanya berada diseberang laut selatan yang maha luas.

Sesaat , setelah matahari mulai tergelincir di balik gunung bagian barat berarti pekerjaan pembuatan perahu dimulai oleh para pembantunya, waktu perlahan lahan bergulir namun pekerjaan pembuatan perahu sangat cepat , secepat denyut jantung sangkuriang menantikan kabar selesainya pembuatan perahu pesanan dayang sumbi. Kira kira 2 kentongan sebelum fajar menyonsong di ufuk timur datanglah kepala pembantunya melaporkan perkembangan ” Tuanku Sangkuriang yang mulia, perahu sudah hampir selesai , yang kurang adalah tiang layar ditengah, diperkirakan penyelesaian lebih awal dari rencana , karena tiang tersebut sudah siap dipancangkan”

Diwaktu yang sama , Dayang sumbi, dikamarnya tak henti-hentinya berdoa agar pembuatan perahu tersebut tidak akan selesai sampai waktunya, betapa tidak , kalau seandainya perahu tersebut diselesaikan oleh sangkuriang tepat pada waktunya , maka sangkuriang yang juga anak kandungnya , yang lahir dari rahimnya, akan mempersuntingkannya , ia akan melayaninya sebagai suami sepenuh hatinya, akan melahirkan anak anak dari anaknya sendiri, akan mendampingi anak kandungnya yang bersatus suaminya, setiap saat wajib memberikan kehangatan Cinta Asmara birahi kepada anak kandungnya sendiri walaupun perasaan cinta asmara birahi telah ia alami bersama sangkuriang dikamar ini karena ketik tahuannya. Perasaannya yang sangat galau perasaan berdosa , dilain saat bahwa dayang sumbi dengan perasaan kasih sayang seorang ibu , juga takut kehilangan Anaknya (Sangkuriang) lagi setelah diusirnya selama 10 tahun.

Tiba tiba bunyi petir mengelegar pertanda akan hujan..artinya matahari akan terbit tetapi pertandanya tidak akan tampak atau lebih jelasnya pembuatan Perahu sudah pasti akan selesai sebelum waktunya, Perasaan sangkuriang sangat bahagia, perasaan Dayang sumbi makin kacau , Duka, Bahagia, dosa yang sangat mengerikan bercampur jadi satu…

Sejenak kemudian terdengar ketukan pintu kamar dayang sumbi, lalu sangkuriang melangkah masuk menjumpainya , dengan senyum bahagia sangkuriang menghampiri calon isterinya, dikecupnya kening dayang sumbi sembari berkata ” Wahai kekasihku, calon isteriku, calaon ibu dari anak-anakku, mari kita songsong perahu pesananan Adinda , akan tampak dari jendela kamar adinda sebuah perahu yang megah , yang akan kita gunakan berbulan madu dan mencari ibunda yang entah dimana” , selesai berkata , sangkuriang memeluk pinggang calon isterinya bermaksud mengajak dayang sumbi mendekat jendela kamar melihat langsung persembahan sangkuriang, namun perasaan dayang sumbi yang seakan akan putus asa…dayang sumbi tidak dapat membayang lagi apa yang akan terjadi, ia  akan menghadapi masa depannya yang tidak menentu apakah sangat bahagia atau sangat mengerikan. Tak terasa tercetuslah isak tangis dayang sumbi , seluruh kekuatan yang telah dipersiapkan berpuluh-puluh tahun untuk menanti sang suami dan Anak Kandungnya , hilang begitu saja , ia hampir terjatuh , untung lengan sangkurian memeluknya lebih erat kemudian menyandarkannnya kedadanya sambil membopong calon isterinya ke arah jendela. Prasangka sangkuriang bahwa calon isterinya dayang sumbi , tidak dapat menahan haru dan bahagia, isak tangis bahagia, dan manja agar minta dipeluk dan dibopong. Setiba dekat cendela , tak sabar lagi sangkuriang mendorong keluar daun jendela agar terkuak lebih lebar , begitu daun jendela terbuka bersamaan hembusan angin malam menerpa kedua wajah sangkuriang dan dayang sumbi, terdengarlah kokok ayam jantang yang saling bersahutan menandakan fajar akan memancarkan cahaya menerangi cakrawala ini , dayang sumbi jatuh pingsan, sangkuriang sangat marah dan kecewa, para pembantu sangkuriang lari ketakutan kembali ke persembunyiannya meninggalkan pekerjaannya yang hampir selesai atau belum selesai, tanpa mengucapkan sepatah katapun digendongnya tubuh dayang sumbi ke pembaringan , kemudian berlari ke tempat pembuatan perahu tersebut. Karena tidak bisa menahan rasa malu dan kemarahan yang meluap-luap, maka segala ilmu dan kekuatan sangkuriang , ditendangnya perahu besar yang hampir selesai tersebut sehingga menggelinding jauh sekali dan menimpa bumi parahiyangan dalam keadaan terbalik…itulah gunung tangkuban perahu..

Dayang sumbi.. masih pingsan di pembaringannya, ia telah kehilangan Sangkuriang yang sakti, Anak Kandungnya sekaligus calon suaminya dan terbebas dari dosa yang sangat mengerikan.

Sangkuriang yang sakti karena malu , tidak dapat memenuhi jansi sumpahnya ,menghilangkan diri “bertapa” entah dimana.

Petir yang menggelegar adalah pertanda kemarahan alam , marah kepada cinta asmara birahi yang telah mempermainkan manusia dan menggiring Ibu dan Anak keperbuatan dosa yang tak terampunkan, yang membangunkan semua mahluk bumi termasuk ayam jantan dihutan agar berkokok lebih awal, membuat segala kekuatan jahat menjadi sirna

[Suber : indotim.wordpress, indosiar.com, wikipedia]

Catatan penulis:
Dengan tidak mengurangi arti dan makna “Legenda Sangkuriang”  dan Falsafah Sunda ( http://id.wikipedia.org/wiki/Legenda_Sangkuriang )  maka beberapa kalimat kami hilangkan dan tambahkan baik dalam bentuk statemen atau dialog ,dengan maksud agar tulisan ini bisa lebih mudah diikuti (rasional) dan menitik beratkan pada episode Kisah Cinta Antara Ibu dan Anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s