Kalimantan Barat

Kalimantan Barat , adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan, dan beribukotakan Pontianak.
Luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah 146.807 km² (7,53% luas Indonesia). Merupakan provinsi terluas keempat setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki propinsi “Seribu Sungai”. Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.
Walaupun sebagian kecil wilayah Kalbar merupakan perairan laut, akan tetapi Kalbar memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau.

Sejarah
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam STB 1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibukota wilayah administratif Gouvernement Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu diantaranya adalah Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan ibukota Pontianak yang dipimpin oleh seorang Residen.
Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di Pulau Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu. Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Suku Bangsa
Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Dayak,Melayu dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%.

Suku Dayak : (1) Rumpun Iban, (2) Rumpun Darat, (3) Rumpun Ot Danum, (4) Rumpun Punan, (5) Rumpun Apo Kayan, terdiri atas : Suku Iban, Suku Bidayuh, Suku Seberuang, Suku Mualang, Suku Kanayatn, Suku Mali ,Suku Sekujam ,Suku Sekubang ,Suku Kantuk ,Suku Ketungau ,Suku Desa ,Suku Hovongan ,Suku Uheng Kereho ,Suku Babak ,Suku Badat ,Suku Barai ,Suku Bangau ,Suku Bukat ,Suku Galik ,Suku Gun ,Suku Jangkang ,Suku Kalis ,Suku Kayan ,Suku Kayanan ,Suku Kede ,Suku Keramai ,Suku Klemantan ,Suku Pos ,Suku Punti ,Suku Randuk ,Suku Ribun ,Suku Cempedek ,Suku Dalam ,Suku Darok ,Suku Kopak ,Suku Koyon ,Suku Lara ,Suku Senunang ,Suku Sisang ,Suku Sintang
Suku Suhaid ,Suku Sungkung ,Suku Limbai ,Suku Maloh ,Suku Mayau ,Suku Mentebak ,Suku Menyangka ,Suku Sanggau
Suku Sani ,Suku Sekajang ,Suku Selayang ,Suku Selimpat ,Suku Dusun ,Suku Embaloh ,Suku Empayuh ,Suku Engkarong
Suku Ensanang ,Suku Menyanya ,Suku Merau ,Suku Muara ,Suku Muduh ,Suku Muluk ,Suku Ngabang ,Suku Ngalampan
Suku Ngamukit ,Suku Nganayat ,Suku Panu ,Suku Pengkedang ,Suku Pompang ,Suku Senangkan ,Suku Suruh ,Suku Tabuas ,Suku Taman ,Suku Tingui
Melayu lokal/Senganan dan suku lainnya (Suku Melayu ,Suku Sambas ,Suku Banjar, Suku Pesaguan ,Suku Bugis ,Suku Jawa ,Suku Madura ,Suku Minang ,Suku Batak ,dan lain-lain)
Tionghoa (Hakka, Tiochiu,dan lain-lain)

Bahasa
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat pula bahasa-bahasa daerah yang juga banyak dipakai seperti Bahasa Melayu, beragam jenis Bahasa Dayak, Menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan oleh suku Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka.
Bahasa Melayu di kalbar terdiri atas beberapa jenis, antara lain Bahasa Melayu Pontianak, Bahasa Melayu Sanggau dan Bahasa Melayu Sambas. Bahasa Melayu Pontianak sendiri memiliki logat yang hampir mirip dengan bahas Melayu Malaysia dan Melayu Riau.

Kabupaten Kota
1 Kabupaten Bengkayang = Bengkayang
2 Kabupaten Kapuas Hulu = Putussibau
3 Kabupaten Kayong Utara = Sukadana
4 Kabupaten Ketapang = Ketapang
5 Kabupaten Kubu Raya = Sungai Raya
6 Kabupaten Landak = Ngabang
7 Kabupaten Melawi = Nanga Pinoh
8 Kabupaten Pontianak = Mempawah
9 Kabupaten Sambas = Sambas
10 Kabupaten Sanggau = Batang Tarang
11 Kabupaten Sekadau = Sekadau
12 Kabupaten Sintang = Sintang
13 Kota Pontianak –
14 Kota Singkawang –

Pontianak
Kota ini terkenal sebagai Kota Khatulistiwa karena dilalui garis lintang nol derajat bumi. Di utara kota ini, tepatnya Siantan, terdapat monumen atau Tugu Khatulistiwa yang dibangun pada tempat yang tepat dilalui garis lintang nol derajat bumi. Selain itu Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas yang adalah sungai terpanjang di Indonesia. Sungai Kapuas membelah kota Pontianak, simbolnya diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak

Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1,1 megameter, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.

Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth, dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini.
Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi), dari Betawi. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), setelah meninggalkan kerajaan Mempawah mulai merantau. Di Banjarmasin/Kotawaringin, ia menikah dengan adik sultan bernama Ratu Sarip Banun [binti Ratu Anom Kasuma Yuda – Raja Kotawaringin VIII]. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya. Kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan Passir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Passir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur, dan Pontianak berdiri.

Pariwisata
Kota Pontianak didukung oleh keanekaragaman budaya penduduk Pontianak, yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Suku Dayak memiliki pesta syukur atas kelimpahan panen yang disebut Naik Dango dan masyarakat Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.

Kota Pontianak juga dilintasi oleh garis khatulistiwa yang ditandai dengan Tugu Khatulistiwa di Pontianak Utara. Selain itu kota Pontianak juga memiliki visi menjadikan Pontianak sebagai kota dengan pariwisata sungai.

Pontianak juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Keanekaragaman makanan menjadikan Pontianak sebagai surga kuliner. Makanan yang terkenal antara lain:
Sambal Goreng Tempoyak
Sotong Pangkong
bubur padas
lemang (ketan yang dibakar)
ikan asam pedas (sup ikan pedas dengan bumbu asam)
kwe tiau
chai kue (semacam pastel yang tidak digoreng, berisi bengkuang, kuchai, talas, atau kacang)
kwe cap (sup dengan kulit babi, semacam kwe tiau, tahu, kacang, dan kadang-kadang ditambah daging)
kwe kia theng (sup dengan isi jeroan babi)
keladi
minuman lidah buaya