Tradisi Tumbilotohe

Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan, kental dengan nilai agama, tradisi itu muncul karena masyarakat Gorontalo pada waktu dulu menyalakan lampu tradisional, untuk menerangi jalan-jalan menuju masjid. Dalam setiap perayaan tradisi tersebut, masyarajat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah, Tradisi tumbilotohe terus berkembang di tengah pro dan kontra di kalangan masyarakat, dan bahkan sering digelar dalam bentuk festival.

Pada tahun 2007, “tumbilotohe” masuk Museum Rekor Indonesia (MURI), karena 5.000.000 (lima juta) lampu menyemarakkan tradisi tersebut.

Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo , yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Tumbilotohe berarti acara pasang lampu.
Menurut sejarah, Tumbilotohe merupakan tradisi masyarakat Gorontalo masa lampau yang sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Tradisi ini dilaksanakan pada 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai magrib hingga pagi hari.

Di masa lampau, pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan umat Islam dalam memberikan zakat fitrah pada malam hari. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari damar dan getah pohon yang mampu menyala dalam waktu lama. Oleh karena semakin berkurangnya damar, maka bahan lampu penerangan diganti dengan minyak kelapa (padalama) dan kemudian diganti dengan minyak tanah.

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak warga Gorontalo mengganti lampu penerangannya dengan lampu kelap-kelip dalam berbagai warna. Namun, sebagian warga masih tetap menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu-lampu minyak tersebut digantung pada sebuah kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning. Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan, dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut hari raya Idul Fitri. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga pendatang, terutama warga kota tetangga, seperti Manado, Palu, dan Makassar. Mereka sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe.

Pada saat ritual Tumbilotohe dilaksanakan, Kota Gorontalo berubah menjadi semarak, karena lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga, tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Bahkan, petakan sawah dan lahan-lahan kosong yang luas pun dipenuhi dengan lampu botol dalam berbagai bentuk, seperti gambar masjid, kitab suci Alquran, dan tulisan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Selain itu, hampir semua alikusu atau kerangka pintu gerbang, baik rumah, masjid, kantor, maupun perbatasan suatu daerah, juga dihiasi dengan janur, pohon pisang, tebu, dan lampu-lampu minyak.

Ritual yang diselenggarakan selama tiga malam tersebut menjadi semakin ramai dan semarak dengan adanya atraksi bunggo (meriam bambu) yang dimainkan oleh anak-anak muda Kota Gorontalo. Para pemain bunggo tersebut saling balas dan saling adu kerasnya bunyi. Menjelang sahur, mereka mengarahkan bunggo tersebut ke kampung-kampung untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur. Dengan suasana demikian, para pengunjung dapat merasakan nuansa religiusitas dan solidaritas bersama masyarakat setempat.
 [referensi :bukucatatan-part1.blogspot.com]

 

lumbilotohe1

lumbilotohe2

lumbilotohe3

lumbilotohe4

lumbilotohe5

sumber foto dari zipoer7.wordpress

 Kembali ke Wisata Gorontalo atau lihat juga Benteng Otonaha – Danau Limboto – Makam Ju Panggola – Pemandian Air Panas Lombongo – Taman Nasional Bogani Nani Wartabone – Tradisi Tumbilotohe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s